Makassar – Sebuah perjalanan kemanusiaan yang diniatkan untuk membantu warga kepulauan berubah menjadi tragedi memilukan. Kapal motor (KM) Fitri Jaya dilaporkan terbalik dan tenggelam di perairan sekitar Pulau Podang-Podang, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, pada Sabtu siang.
Insiden kecelakaan laut tersebut menyebabkan tiga orang penumpang meninggal dunia, sementara delapan lainnya berhasil diselamatkan. Kapal kayu itu diketahui membawa total 11 orang yang terdiri dari tenaga kesehatan, pejabat kecamatan, serta awak kapal. Mereka tengah menjalankan misi sosial dengan mengantar bantuan untuk warga Pulau Sarappo.
Kepala Seksi Siaga Operasi Kantor Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 11.00 WITA. KM Fitri Jaya sebelumnya bertolak dari Sungai Pangkajene pada pukul 08.40 WITA dengan membawa muatan bantuan berupa puluhan sak semen dan perlengkapan jamban yang akan digunakan untuk fasilitas masyarakat setempat.
Di tengah perjalanan, kondisi cuaca mendadak memburuk. Hujan deras yang disertai angin kencang serta gelombang laut tinggi menghantam kapal. Akibatnya, kapal kehilangan keseimbangan, oleng, dan akhirnya terbalik. Nahkoda dilaporkan tidak mampu menguasai kemudi karena kuatnya terpaan ombak.
Mendengar kabar kecelakaan tersebut, warga Pulau Sarappo Lompo segera bergerak melakukan pertolongan. Menggunakan perahu tradisional jenis jolloro, mereka mengevakuasi para penumpang yang terombang-ambing di laut, baik korban selamat maupun yang telah meninggal dunia.
Tiga korban jiwa dalam kejadian ini diidentifikasi sebagai Imran, Koordinator LKC Dompet Dhuafa, Muhammad Fitri Mubarak selaku Camat Liukang Tupabbiring, serta Darma, bidan yang bertugas di Pulau Sarappo. Sementara itu, delapan penumpang lainnya berhasil dievakuasi ke Pangkajene sebelum kemudian dirujuk ke Makassar untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Bupati Pangkep, Yusran Lalogau, menyampaikan rasa duka yang mendalam atas peristiwa tersebut. Ia menuturkan bahwa para korban merupakan sosok-sosok yang tengah menjalankan tugas kemanusiaan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat kepulauan.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan dalam aktivitas pelayaran, terutama saat cuaca ekstrem melanda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan terkait potensi gelombang tinggi di wilayah perairan Sulawesi Selatan, termasuk imbauan untuk menunda pelayaran.
Di balik laporan dan angka korban, tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi banyak pihak. Namun, kejadian tersebut juga menampilkan sisi kemanusiaan yang kuat, terlihat dari kesigapan dan solidaritas warga pesisir yang tanpa ragu membantu sesama di tengah situasi darurat.
Editor : Angkaraja
Sumber : mercatotomatopienewark.com