Jakarta, 15 Maret 2026 — Tren global yang disebut therian kini mulai merambah kalangan remaja Indonesia. Banyak anak muda mengaku merasa memiliki identitas non-manusia, seperti serigala, kucing, rubah, atau anjing, baik secara mental, spiritual, maupun psikologis. Mereka sering mengekspresikannya melalui perilaku seperti berlari dengan empat kaki (quadrobics), memakai masker hewan, atau mengunggah video “shift” (perasaan berubah jadi hewan) di TikTok.

Di Indonesia, tagar #therianindonesia dan #indonesiantherian sudah mencapai ratusan ribu views dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa remaja SMA di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya bahkan membentuk komunitas kecil untuk bertemu di taman atau mall, melakukan quadrobics bersama, atau sekadar berbagi pengalaman identitas mereka.

Salah satu cerita viral berasal dari seorang remaja 16 tahun asal Bandung yang menggunakan nama akun @wolfspirit_id di TikTok. Ia mengaku sebagai “therian wolf” dan sering memposting video berlari di lapangan sekolah sambil mengenakan telinga dan ekor buatan. “Aku merasa jiwa serigala ini sudah ada sejak kecil. Saat quadrobics, aku merasa bebas dan lebih nyata,” katanya dalam salah satu video yang ditonton lebih dari 500 ribu kali.

Psikolog anak dan remaja, dr. Rina Handayani dari RS Jiwa Jakarta, menjelaskan bahwa fenomena ini bukan gangguan mental klinis.

“Therian lebih mirip bentuk ekspresi identitas selama masa remaja, mirip subkultur seperti emo atau furry dulu. Banyak yang melakukannya untuk mencari rasa belonging atau coping dengan stres sekolah, bullying, atau tekanan keluarga. Selama tidak mengganggu fungsi sehari-hari atau membahayakan diri, ini biasanya fase eksplorasi diri.”

Namun, tren ini juga menuai kontroversi. Beberapa orang tua dan guru khawatir anak-anak terlalu larut, terutama jika sampai bolos sekolah untuk “meetup therian” atau mengalami bullying karena dianggap aneh. Di media sosial Indonesia, muncul perdebatan sengit: ada yang mendukung kebebasan berekspresi, tapi ada pula yang menyebutnya “krisis identitas generasi Z” atau pengaruh buruk algoritma TikTok.

Di Argentina — pusat ledakan tren ini sejak akhir 2025 — ribuan remaja berkumpul di taman Buenos Aires dengan masker hewan realistis, berlari, menggonggong, atau mengaum. Fenomena serupa mulai terlihat di Indonesia, meski skalanya masih lebih kecil dan lebih banyak online.

Komunitas therian sendiri menekankan bahwa ini bukan “cosplay” semata atau permainan, melainkan identitas yang dalam bagi sebagian orang. Mereka juga mengingatkan pentingnya keselamatan: jangan lakukan quadrobics di jalan raya, hindari konfrontasi dengan orang yang tidak paham, dan cari dukungan jika merasa kesulitan.

By admin